Rabu, 03 November 2010

IBU GURU HARNI

Adzan shubuh belum juga berkumandang, meski kokok ayam-ayam sudah memekakkan telinga. Ibu Guru Harni beranjak dari tempat tidurnya, kemudian menuju kamar anak-anak. Terlihat ketiga anak laki-lakinya masih tertidur pulas, berselimut sarung batik menahan dinginnya udara pagi. Ditutupnya kembali pintu kamar anak-anaknya itu dan menuju dapur. Sejenak Ibu Guru Harni terdiam, lalu dibukanya tempat nasi, masih terisi setengah.  “Cukup untuk sarapan anak-anak”, batin Ibu Guru Harni.

            Ibu Guru Harni tinggal menyiapkan lauk untuk sarapan anak-anaknya. Terlintas dalam pikiran Ibu Guru Harni untuk menggoreng telur, tanpa berpikir panjang lalu Ibu Guru Harni membuka lemari tempat biasa menyimpan berbagai macam bumbu dan telur tentunya. Betapa kagetnya beliau ketika membuka lemari itu, stok telur untuk lauk anak-anaknya habis. Terpikir olehnya untuk mengambil telur di kandang, berharap si blorok ayam piaraannya bertelur hari ini. Baru saja ingin melangkahkan, kaki menuju kandang ayam, terdengar adzan shubuh sudah berkumandang. Segeralah beliau menuju tempat wudlu, setelah itu ia membangunkan ketiga putranya, “Bangun….bangun cah bagus… bangun ayo sholat shubuh, bangun…bangun,” kata Ibu Guru Harni dengan suara lembut penuh kasih sayang ketika membangunkan ketiga putranya tersebut.
           
Selesai menunaikan ibadah sholat shubuh Ibu Guru Harni kembali menuju dapur, diambilnya lampu minyak yang menempel di dinding dapur lalu bergegas menuju kandang ayam. Meski pagi telah menjelang, kandang ayam itu masih sangat gelap, selain tidak ada penerangan yang memadai, letak kandang ayam itu tepat di bawah pohon mangga yang sangat rindang. Jaringan listrik juga belum masuk ke kampung tempat Ibu Guru Harni. Penerangan di kampung ini mengandalkan lampu minyak, bahkan banyak di antara tetangga yang hidup tanpa penerangan lampu pada malam hari.

            Kembali dari kandang Ibu Guru Harni menuju dapur, lalu menyalakan tungku untuk masak. Beberapa potong kayu sudah mulai terbakar, tempat penggorengan di tempatkan di atas tungku itu. Sedikit minyak goreng dituangkan di atas pengorengan itu. Dua butir telur yang diambilnya dari kandang si blorok tadi dikocok dalam mangkuk kecil dengan sedikit ditaburi garam, lantas dituangkan dalam penggorengan. Tidak beberapa lama telur itu sudah matang, diangkatnya dari penggorengan dan ditiriskan diatas penggorengan itu. Sekarang tungku itu dipergunakan untuk menghangatkan nasi sisa semalam.

            Matahari mulai menari-nari diufuk timur, meski belum memberikan kehangatannya. Ibu Guru Harni mulai mempersiapkan sarapan untuk ketiga putranya, tiga piring kecil terisi nasi dengan sepotong telur goreng di atasnya. Tiga gelas susu putih juga sudah disiapkan diatas meja makan. Sarapan untuk ketiga putranya sudah selesai. Ketiga putranya pun juga sudah siap di meja makan, dengan seragam sekolah lengkap. Heri dengan seragam SMP-nya duduk menghadap barat, Andi dengan seragam SD-nya duduk menghadap ke utara, si kecil Agus dengan seragam taman kanak-kanaknya duduk menghadap selatan. Mereka bertiga menikmati sarapan yang sudah dipersiapkan bundanya, Ibu Guru Harni.
            Setelah mengantar ketiga putranya berangkat sekolah hingga pintu depan, Ibu Guru Harni segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah dimana beliau mengabdikan dirinya sebagai guru sekolah dasar di SDN Dawung II, Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar. Sudah hampir 20 tahun Ibu Guru Harni mendedikasikan dirinya di sekolah inpres itu. Sejak tiga tahun sebelum anak pertamanya lahir tahun 1982. sudah cukup lama.

Dengan langkah mantap dan penuh semangat Ibu Guru Harni menyusuri jalan setapak menuju sekolah tempatnya mengabdikan diri. Melewati pematang sawah di pinggiran kampung tempat tinggalnya. Mendidik putra putri generasi penerus bangsa. Dengan peluh yang membasahi keningnya, senyum ceria dan ramahnya tetap menghias menghampiri anak didiknya yang berhamburan mengerumuni untuk menyalami tangan keriputnya. Beberapa diantara murid-muridnya itu berebut untuk membawakan tans yang dibawanya. Hilang sudah rasa lelahnya melihat kelucuan dan keluguan mereka. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru karena merasa dirindu, dinanti, dan dibutuhkan.

Anak-anak sekolah itupun kemudian berbaris rapi di depan kelas seperti biasanya, sebelum memasuki kelas untuk memulai pelajaran. Dengan suara lantang, seorang siswa menyiapkan barisan. Satu persatu mereka memasuki kelas sementara Ibu Guru Harni  memperhatikan kerapihan berpakaian dan memeriksa kebersihan kuku mereka.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Ibu Guru Harni memberi salam "Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh" suara mereka bergema ke ruangan kelas tersebut. Satu ruangan yang terdiri dari dua puluh siswa saja yang terdiri dari 11 siswa putra dan 9 siswa putri."Sebelum memulai pelajaran, kita berdoa terlebih dulu. “Berdoa mulai!" lanjut , mereka lalu berdoa. Diantara mereka masih saja ada yang usil, namanya juga anak-anak.

Mentari pagi sedang hangat-hangatnya, sehangat senyum Ibu Guru Harni yang ramah itu. Dengan sabar dan perhatian dibimbingnya anak-anak itu untuk belajar. Waktu istirahat pun tiba. Saatnya Ibu Guru Harni untuk sejenak melepas lelah. Suaranya hampir serak karena terus menerus berbicara. Berbicara untuk mengajar anak-anak itu, ataupun untuk mengingatkan mereka yang usil dan ramai. Benar-benar hari yang melelahkan. Bu Harni dikejutkan oleh suara seorang pemuda gagah yang mengetuk pintu kantor guru yang mirip gudang itu. Dipersilakannya masuk tamu itu, duduk di kursi-kursi reyot tanpa sandaran itu."Ada keperluan apa ya pak!" Bu Harni tampak keheranan karena biasanya jarang ada yang bertamu di sekolah kampung itu.

"Ibu Guru kok panggil pak, sih! saya Dimas bu, murid ibu" jawab pemuda yang bernama Dimas itu. "Dim...Dimas, Dimas ‘jangkung' itu" Ibu Guru Harni tampak keheranan dan tertegun karena Dimas yang oleh teman-temannya dulu di panggil jangkung ini kini menjadi orang sukses. Terlihat dari pakaian yang dikenakannya. "Betul Bu. Alhamdulillah, Ibu tidak lupa dengan saya!" Dimas menjawab dengan senyum."Bagaimana ibu bisa lupa dengan anak yang paling bandel seperti kamu!" jawab ibu Harni dengan gembiranya. Lepaslah tawa diantara mereka.
Rupanya, pemuda gagah di hadapannya saat ini adalah Dimas. Putera dari pak mantri kesehatan yang dulu ditugaskan di daerah itu, namun akhirnya pindah ke kota. “Sekarang kamu tinggal dimana thole, cah bagus?” Tanya Ibu Guru Harni dengan wajah yang masih tampak keheranan. “Saya tinggal di Jakarta bu guru,” jawab Dimas dengan santun. “Lantas sekarang kamu kerja jadi apa?” Tanya Ibu Guru Harni dengan senyum mengembang penuh kasih sayang. “Alhamdulillah sekarang saya mempimpin perusahaan yang saya rintis beberapa tahun lalu, bu,” jawab Dimas dengan penuh rasa hormat pada guru SD-nya itu. Kemudian mereka terlibat obrolan hangat, sudah hampir lima belas tahun mereka berpisah, semenjak perpisahan kelas VI, saat Dimas lulus SD.

Ibu Guru Harni tampak bangga, sekolah kampung dengan sarana-prasarana seadanya ini mampu melahirkan anak bangsa yang mandiri dan sukses seperti Dimas murid SD-nya dulu. Tidak ada kebanggaan lain dari seorang guru seperti halnya Ibu Guru Harni selain melihat anak didiknya berhasil dalam karir dan kehidupannya. Tak ada rasa ingin mendapatkan balas budi, terlebih materi dari anak didiknya. Hanya keikhlasan menyampaikan ilmu yang dimiliki sebagai bekal dalam menjalani kehidupan bagi murid-muridnya.

Nama lengkap Ibu Harni adalah Suharni. Seorang guru SD yang mengajar penuh di kelas I. Semangat pengabdiannya mengalahkan segalanya. Ekonomi keluarga yang pas-pasan, kesehatan dirinya, terus berjuang untuk bangsa dan negaranya, membangun generasi bangsa yang cerdas dan berdikari tak kenal lelah dengan penuh kasih sayang serta keikhlasan, demi cita-cita luhur tanpa kenal menyerah.

Dimas hanyalah satu dari jutaan orang yang sukses di negeri ini, sukses dengan landasan ilmu yang telah di dapatkan dari bangku sekolah, atas jasa para guru. Meski tidak seperti lazimnya guru lain yang berijazah sarjana, tetapi dengan hanya lulusan SPG, sekolah guru setingkat SMA, kepiawaian dan pengalamannya dalam mengajar tidak kalah hebat dengan guru-guru lain yang berijazah lebih tinggi darinya, kepercayaan masyarakatlah yang membuatnya bisa menjadi guru karena Bu Harni adalah puteri seorang petani kampung di daerah itu. Buktinya, berapa banyak orang-orang hebat seperti Dimas yang lahir dari tangan-tangan berjasa seperti Bu Harni ini. (Cilegon, 24 November 2009)
                                   

Aku persembahkan cerita ini untuk bundaku, Ibu Suharni, guru SDN Dawung II….SELAMAT HARI GURU BUNDA

Sujud sembah dari anak-anak dan keponakanmu yang telah terinspirasi dari pengorbanan dan keikhlasanmu mendedikasikan diri demi ibu pertiwi…Semangat!!!

Heri Santoso
Andi Priyono
Agus Supriyanto
Dimas Dwi Nur Cahyo Saputro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar